[ SETENGAH LIMA ]

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERANDA *
CIVIL * GIGS * ASTRONOMIA * CERITA * PHOTO BLOG
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Biaya Kesehatan di Indonesia Mahal?

Saturday, April 19, 2014

Ilustrasi google
Kata orang, kesehatan adalah hal yang paling berharga dalam hidup ini, bahkan lebih berharga daripada harta. Ungkapan ini memang benar dan tidak berlebihan. Seorang hartawan sekalipun apabila Ia berpenyakit parah, maka Dia tidak akan bisa menikmati hartanya. Tetapi tetap saja ada untungnya menjadi orang kaya. Orang kaya sesakit apapun parahnya pasti ada obatnya. Hehe... maksudnya Dia pasti mendapat perawatan terbaik dan tercangih yang ada saat ini. Lantas bagaimana orang yang belum beruntung menjadi orang kaya (seperti saya) terserang penyakit dan membutuhkan pertolongan medis di Rumah Sakit? Ikuti ceritanya berikut ini...

FEBRUARI 2013

Sekitar akhir Januari 2013, saya mendapatkan telp dari seorang teman. Dia menawari saya mengikuti sebuah kompetisi berbasis kemasyarakatan. Bisa dibilang pekerjaan sosial yang dikompetisikan. Karena tertarik, otomatis saya yang sedang libur semester di Cilacap harus kembali ke Semarang.

Sesampainya di Semarang, saya diperkenalkan dengan beberapa anggota tim yang lain. Setelah berkenalan dan diberi penjelasan mengenai konsep kompetisi yang akan kita ikuti, kemudian saya pulang ke kos.

Akhirnya beberapa hari berlalu. Datang berita dari anggota kelompok saya, kalau kelompok kami memiliki tambahan anggota yang berasal dari Korea, Jepang, dan Mesir. Oh iya, kebetulan sebelumnya kelompok saya mengikuti semacam acara ‘menginap bersama bule’, tapi kebetulan saya berhalangan hadir. Sebenarnya alasan saya tidak hadir ada 2 :

  1. Anggota kelompok saya, cewek semua (kecuali saya). Bayangkan apa yang akan terjadi                    apabila...
  2. Saya pemuda sibuk. Ehm... ada acara kompetisi lainnya. hehe

BULE??? Udah kepikiran aja nih, bahasa Inggris saya kan agak hancur, gimana mau ngomomg sama bule! Perlu Anda ketahui, selama ini saya sudah mengikuti bimbingan bahasa Inggris mulai dari persiapan TOEFL sampai conversation, tapi hasilnya nihil! Maksudnya nihil disini, kalo saya nonton film bule atau ngomong sama bule, saya tetep nggak ngerti artinya. Hiks. Tapi kalo masalah tertulis lumayanlah. Hasil test TOEFL saya per April 2014 adalah 553. Cukup untuk ambil Fast Track. Aminn. (sombong dikit ye hehe)

Akhirnya yang ditunggu datang. Kami ketemuan sama si bule-bule itu. Kelompok kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil karena memang tugasnya yang cukup banyak. Saya kebagian dapet kelompok kecil bareng bule Korea. Singkat cerita saya jadi akrab sama si bule Korea. (Nggak terlalu akrab juga si, sayanya yang sok akrab). Kalian pengen tau bagaimana caranya saya komunikasi sama bule ini? Nih contohnya :

Amar : (ngasih jaket almamater buat dipake masuk ke perusahaan buat cari sponsor) Mina, use it... (sambil meragain cara pake jaket)
Mina : This? Okey (dia pake) (terus dia bercincong tanya jaket yang saya kasih punya siapa, pokoknya bahasanya kagak jelas banget deh, tapi intinya saya tau)
Amar : The jacket belongs to Tya (kagak tau deh saya jawabnya bener atau nggak. Intinya jaket almamater itu punya si Tya)
Mina : Oh okey. (terus si bule diem masuk ke perusahaan)

Satu jam kemudian, saya sama si Mina (oh ya, si bule korea namanya Mina) keluar dari perusahaan. Eh tiba-tiba dia nyletuk.

Mina : Mar, jaket ini punya siapa? (pake bahasa inggris tentunya)
Amar : Sugondo Joyopuspito
Mina : Oh okey... Sugondo
Amar : Alhamdulillah (cengar-cengir)



Bule Koreanya yang sebelah kanan
Nah, berbekal kedekatan dengan bule Korea itu, saya jadi agak-agak terkena gelombang K-POP. Terutama filmnya. Beberapa hari setelah berkeliling kota Semarang bersama Mina, saya putuskan untuk tinggal di kosan dan melihat semua film Korea yang sudah saya copy dari tetangga kost saya, namanya Mas Wawan. Btw, Mas Wawan ini sohib saya banget. Dia ini mahasiswa jurusan kimia, alhamdulillah dia lulus pertengahan tahun lalu. Banyak film Korea yang saya kopi dari Dia, mulai dari drama seri sampai film layar lebar tertata rapi di laptop saya pada waktu itu.


Benda lakhnat

Waktu menunjukan pukul 16.30, saya masih ingat, saya sedang menonton film Korea berjudul ‘Chiling Romance’. Tiba-tiba kuping saya gatal. Apa yang Anda lakukan ketika kuping Anda gatal? Yup... Ambil cotton buds dan bersihkan kopoknya. Hal itu juga yang saya lakukan sembari melihat keseruan film Korea. Kenikmatan dalam membersihkan telinga sembari melihat film jika digambarkan dengan kurva, maka bentuknya seperti parabola. Terdiri dari 3 fase. Fase awal : kenikmatan sedang, Fase puncak : dimana semua otot anda merasa rileks, dan Fase akhir : dimana kenikmatan berkurang.


kurva parabolik korek kuping

Setelah melewati Fase Akhir, saya keluarkan si cottons buds dari dalam lubang telinga. Dan apa yang terjadi??? Naujubileh, kapasnya ketinggalan di telinga!

Saya coba segenap hati untuk mengeluarkan si kapas cotton buds jahanam tersebut dari dalam lubang telinga saya dengan berbagai macam cara. Berikut daftar cara yang pernah saya gunakan :

  1. Memiringkan kepala searah lubang telinga yang tersumpal kapas dan mengguncangnya berharap           si kapas       jatuh. (GAGAL)
  2. Menarik kapas dengan batang cotton buds yang sudah tidak ada kapasnya, dengan cara                    menjepit kapas       yang ada di dalam telinga menggunakan batang cotton buds dan menariknya          keluar. (GAGAL)
  3. Membuat sumpit dari batang cotton buds dan berusaha menjebit kapas dengan sumpit tersebut.          (GAGAL)
  4. Menetesi lubang telingan dengan air kemudian memiringkan kepala searah lubang telinga yang              tersumpal      kapas dan mengguncangnya berharap si kapas jatuh. (GAGAL)

Empat cara tersebut berulang-ulang saya lakukan dan berakhir sampai pukul 18.30 karena lelah dan lemas. Bayangkan 2 jam bro! Saya putuskan untuk menelpon mamah saya dan meminta nasehatnya. Berdasarkan nasehatnya saya disuruh untuk langsung masuk ke UGD.

Singkat cerita saya langsung ngacir ke Rumah Sakit terdekat. Saya kira malam-malam Rumah Sakit sudah sepi, eh ternyata masih ramai. Disana saya lihat beberapa orang duduk mengantri di loket pendaftaran dan loket pembelian obat. Saya antri di loket pendaftaran. Giliran saya untuk maju ke loket pendaftaran.

Penjaga loket : Bisa saya bantu?
Amar             : Mas, dokter THT nya ada?
Penjaga loket : Kalo THT adanya waktu praktek mas, besok pagi...
Amar             : Oh gitu... (muka sedih ala pria Korea)
Penjaga loket : Ada apa mas?
Amar             : Ada cotton buds ketinggalan di telinga saya mas...
Penjaga loket : APAAAAAA??? (Muka syok..., tiba-tiba semua orang yang antri di Rumah Sakit memalingkan muka ke arah saya)
Amar         : Iya mas... ada cotton buds ketinggalan di telinga saya mas. (orang-orang antrian di blakang saya ketawa-ketawa sendiri... semprul!)

Malam itu adalah salah satu malam terpanjang dalam hidup saya. Saya dimasukkan kedalam ruang “kaya ruang operasi” tapi saya yakin bukan ruang operasi. Kemudian seorang berseragam putih mulai mengobservasi telinga saya. Butuh waktu 15 menit untuk mengeluarkan kapas jahanam tersebut.
Setelah selesai, saya menuju loket pendaftaran tadi untuk membayar. Dan berapa harga untuk sebuah kapas lakhnatullah tersebut? Rp 100.000,00... Sebuah harga yang ‘wah’ untuk mahasiswa seperti saya. Untungnya saya membawa uang yang cukup. Bayangkan apabila orang lain memiliki masalah ‘kapas ditelinga’ tapi tidak memiliki uang Rp100.000,00. hiks



APRIL 2014

Kisah ini baru saja terjadi. Bahkan sampai saat saya menulis artikel ini, sisa-sisa pertarungannya masih ada ditubuh saya.

Kamis, 10 April 2014, saya bersama ketiga teman saya mengerjakan tugas di dalam kamar kos saya. Artinya ada 4 orang di dalam kamar saya termasuk saya. Kebayang dong betapa penuh dengan karbon dioksida, apalagi kamar kos saya termasuk tipe SSSSS. Sempit Sekali Sampai Selonjor Saja Susah.

Pukul 10 malam, karena keadaan yang memang ngantuk, teman saya bertanya apakah ada yang punya rokok. Nah, kebetulan sejak sebulan sebelumnya, saya iseng-iseng nyoba yang namanya rokok dan masih ada beberapa linting rokok yang belum dibakar. Hehe... karena saya punya rokok, alhasil saya dan teman saya yang bertanya tadi, merokok di dalam kamar saya. Kebayang dong sumpeknya kayak apa.


rokoknya model ginian. hehe
Waktu berlalu sampai pukul 11. Pekerjaan kami selesai, dan teman-teman saya cabut dari kosan saya. Begitu mereka keluar dari kamar kos, saya langsung tidur. Alhasil kamar masih penuh dengan zat-zat aditif dan belum saya bereskan. Keesokan paginya, badan saya panas, dan tenggorokan saya sakit! BAGUS!

Pada dasarnya, saya jarang sekali pergi ke dokter. Biasanya masalah flu seperti ini satu hari saja juga sudah sembuh (tidur dan sembuh), tapi yang ini beda. Sudah 3 hari kok belum sembuh-sembuh. Padahal saya banyak sekali tugas kuliah yang tidak mungkin diselesaikan dengan baik apabila keadaan badan saya panas dan pusing. Karena masalah ini itu, saya berobat ke dokter pada hari senin.

Saya putuskan untuk pergi ke PUSKESMAS, karena lokasinya yang dekat dengan tempat kos saya. Masalah kesehatan, otomatis saya siapkan uang yang lebih, sekitar 100 ribu rupiah. Berdasarkan pengalaman, saya pernah mengantar teman saya yang sakit demam berobat ke praktek dokter tidak jauh dari kawasan kampus dan untuk biaya berobat dan obatnya dikenai sekitar 80 ribu. Jadi pikir saya lebih aman bila saya membawa uang 100 rb.

Saya sampai di Puskesmas sekitar pukul 9 pagi. Tidak perlu mengatri, karena yang datang hanya sedikit orang. Pelayan loketnya ada dua orang wanita, usia sekitar 35 tahunan.

Pelayan loket     : Ada yang bisa saya bantu mas?
Amar                  : Saya mau berobat mbak.
Pelayan loket     : Sudah pernah berobat disini? KTP nya domisili mana ya?
Amar                  : Belum. Cilacap mbak
Pelayan loket     : Dikenai biaya pendaftaran 5 ribu rupiah ya.

Tiba-tiba si ibu-ibu pelayan loket tadi ngupil! Sumpah ngupil sambil nyatet nama saya di kertas! Saya tunggu si Ibu-ibu tadi selesai ngupil+nyatet nama saya baru saya kasih dia uang 10 rb rupiah untuk bayar pendaftaran. Dia ngupil pake tangan kiri, terus dia kasih uang kembalian 5 ribu rupiah ke saya pake tangan kiri! Sumpah kurang ajar!


Ilustrasinya
Kita lupakan ibu-ibu 35 tahunan dan upilnya sejenak.

Nah, setelah itu saya dipanggil menuju ruang dokter. Saya tumpahkan segala perasaan saya kepada si dokter. Setelah selesai diperiksa, saya keluar ruangan, menunggu sebentar dan mendapat beberapa obat. Kemudian saya menuju loket ibu-ibu upil dan bertanya apakah obatnya bayar lagi. Kemudian ibu-ibu upil tadi berkata kalau 5 ribu rupiah tadi sudah mencakup semua biaya obat dan pemeriksaan. Alhamdulillah, kena upil nggak papa deh, yang penting Cuma 5 ribu... yeay!


Obat-obatan yang diresepkan dokter. Saya ke Puskesmas tersebut 2 kali karena ada alergi antibiotik


Bayangkan saja, berobat cuma 5 ribu rupiah, bahkan bisa gratis kalau Anda memiliki KTP domisili puskesmas setempat. Orang-orang dimedia bilang katanya biaya berobat bagi orang tidak mampu mahal, tapi saya masih menemukan tempat berobat murah lho! Oke, memang penanganan dan obatnya berbeda, tapi yang penting sembuh, dan saya sembuh.

AYO KE PUSKESMAS!

PS :

1. Memang tidak bisa dibandingkan antara kejadian Februari 2013 dan April 2014, karena jenis penyakitnya yang memang jauh berbeda. Tapi ada yang bisa kita lihat disini, kesungguhan pemerintah Indonesia untuk menangani masalah kesehatan bagi masyarakat menengah kebawah memang ada. Saya optimis, siapapun pemimpin Indonesia di tahun 2014 ini, Republik yang saya cintai ini akan terus merubah dirinya menjadi lebih baik. Amin!

2. Jangan sentuh yang namanya ROKOK!





Share this article on :

3 celathu:

Ahmad said...

Saya baca dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikitpun.Pengalaman yang menarik sob,lanjutkan ;)

Amar Ma'rruf said...

Semoga pengalaman saya yang sedikit ini bisa membantu... thnks for visit Ahmad...

uti said...

hahaha.. pembawaan cerita yang bagus, dari tadi saya ktawa mulu baca crita kamu.. bikin novel gih

Post a Comment

Komentar di blog ini dibuat tanpa captcha untuk memudahkan Anda dalam berkomentar...

 
© Copyright 2010-2011 Setengah Lima All Rights Reserved.
Template Design by Amar Ma'rruf | Published by Google | Powered by Blogger.com.
Pengagum Ahmad Tohari, Pramoedya A.T., dan S. Djoko Damono