[ SETENGAH LIMA ]

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERANDA *
CIVIL * GIGS * ASTRONOMIA * CERITA * PHOTO BLOG
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

SAIDJAH INGIN MERDEKA !

Friday, June 20, 2014

Ah, kalian cantik-cantik deh...
Saya pilih yang paling kiri, tangannya membentuk aksara 'piss'.
Namanya Ashanti... Atau anggap saja begitu...
Imut gitu, pipinya bisa dikunyah... ih geli...
Namanya Saidjah, memang bukan nama sebenarnya. Tapi saya suka panggil dia Saidjah. Dia lahir di Lembah Baliem. Di tempat yang dulu oleh Pak Suharto diberi nama Irian Jaya, tapi dirombak oleh pluralis kebablasan Pak Gus Dur menjadi Papua. Ah, kenapa harus disebut Papua. Itu membangkitkan semangat Saidjah untuk memberontak!

“Kamu kasih duri ikan ke kucing, besok paginya si kucing akan kembali lagi minta daging ikan. Sebelum terlambat, lebih baik lempar si kucing pake sendal!” sukamoco

Eh, saya bukannya anti Pak Gus Dur si pluralis lho. Anda tahu saya lah. Saya orang yang selalu mempertanyakan motivasi orang yang bertanya ‘agamamu apa’ kepada orang lain. Tapi untuk kebijakan ubah nama ini dan tetek bengek tentang Papua oleh Pak Gus Dur, saya jelas menolak.

Behind the scene 'Kapten Amerikah'

‘Apalah arti sebuah nama?’ Nama itu penting, identitas dari suatu entitas, doa yang diharapkan akan dikabulkan Tuhan. 

Tahu arti kata Irian Jaya? Irian Jaya artinya ‘Ikut Indonesia Anti Netherland Jaya’. Sebuah semboyan, sebuah semangat, serta sebuah keinginan untuk andil dalam pembangunan nusantara dari para leluhur bangsa Irianese! Itu akronim lawakan dari para tentara jaman dahulu si. Arti sebenarnya lebih indah yaitu ‘sinar yang menghalau kabut’. Lha kok malah diganti Papua. Tahu arti Papua? Artinya ‘Daerah hitam tempat perbudakan’. Budak itu selalu ingin merdeka. Jadilah beberapa ‘oknum’ rakyat ingin merdeka. “Sisanya cuma ikut-ikutan eforia bintang kejora”, kata sepupu saya yang blesteran Irianese-Javanese, sambil makan kacang rebus di alun-alun Kota Cilacap. Eh tentang sepupu saya. Dia kuliah di Uncen, jurusan teknik sipil. Kurang tahu juga kelanjutan studinya, soalnya dia nikah pertengahan 2013. Nah, waktu nikah dia ngundang bapak ibu saya ke Jayapura. Jadilah bapak ibu terbang ke Jayapura. Testimoni dari ibu saya saat pertamakali ke Irian Jaya, “Masa bakso harganya 35 ribu mas, rugi mamah!”. Testimoni dari bapak saya saat pertamakali ke Irian Jaya, “Cantik... pramugarinya cantik-cantik”. Ibu cerita katanya di dalem pesawat, bapak sibuk motoin pramugari secara sembunyi-sembunyi! Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!


Lanjut...       
Selain kebijakan ‘Papua’-nya, Gus Dur juga pernah mengundang Theys H. Eluway, ketua Presidium Dewan Papua. Edan! Kalau saya jadi Presiden RI moto saya jelas, ‘Jangan mempraktekan permainan dadu serius kepada bocah ingusan!’


Putingnya kok unyu ya... Jadi ngiler... ahay, porno!

Saya kembali ke Saidjah. Dia masih hidup (sayangnya). Masuk dalam daftar Red Notice Interpol, tapi kok nggak ditangkep-tangkep. Mungkin karena dia berada dalam pengawasan Inggris. Negara Ratu Elis memang terkenal concern sama yang namanya HAM. Halauan politiknya memang memberikan ruang bagi suara-suara yang ingin bebas merdeka. Maka dari itu mungkin Inggris bersimpati kepada perjuangan Saidjah sebagai salah seorang pemimpin gerakan Free West Papua, saya singkat (FWP).

Ah Neng Elis nggak adil... bersimpatilah kepada Irlandia. Kalau boleh, fasilitasi PIRA (Provisional Irish Republican Army) agar mendapat kesempatan yang sama dengan dewan FWP untuk berbicara di depan umum.

Ah Neng Elis jahat... melanggar hak asasi manusia rakyat Irlandia untuk memutuskan kebebasan dan kemerdekaannya sendiri.

PS :
  1. Saya kurang peduli dengan gerakan Free West Papua, tapi saya peduli sama rakyat Irian Jaya. Bayangkan jutaan orang, pendidikan masih kurang, sukuisme masih jadi no 1, cenderung berperang dalam memutuskan sengketa antar suku. Kalau mereka merdeka, saya yakin pasti terjadi perpecahan karena pertanyaan ‘siapa yang pantas menjadi...’
  2. Ah Neng Elis, dan kawan-kawannya... selalu saja suka menggosip. Ikut campur urusan rumah tangga orang. Dia kira kita melakukan KDRT. Padahal enggak... Bangsa Irian Jaya disini, berbeda dengan Bangsa Aborigin disana. Irianese disini bisa jadi presiden, bisa jadi guru, bisa makan enak, yang penting usaha. Kenapa nggak ngurus negaranya sendiri si?
  3. Saidjah karena 'pembangkang', Saidjah karena 'pembelot'. Terinspirasi dari novel karya Multatuli, 'Saidjah dan Adinda'. Diasosiasikan secara sebagian kepada Benny Wenda menulis di >>> http://bennywenda.org/
  4. Saya bingung sama HAM!
  5. Kangen Papah Mamah di kampung! Ahzek...! Kemaren Mamah ditelp nggak nggangkat, alesannya, 'Bentar ya, lagi nungguin Mba Heti lahiran'. Akhirnya nggak jadi telp. -___- . Mba Heti itu istri dari sepupu saya. Jadi saya punya keponakan baru. Ah, saya makin tua...!



Share this article on :

4 celathu:

maryam ishmatullah said...

Baru pertama baca tulisannya mas moco (?) :D

satu kata,
Keren!

salam kenal dari sebrang, :)

Masamar Sukamoco said...

Salam kenal pemudi Seberang... Btw, seberang itu sebelah mananya semarang ya? ahahaha...

terimakasih sudah membaca...
cuma kamu yang baca tulisan saya... hiks...

kenny977world said...

Salam kenal rakan blogger...semoga sentiasa sukses

Masamar Sukamoco said...

Salam kenal juga mas kenny dari dunia ke 977... hehe,,. bercanda mas...

sukses terus mas kenny...

Post a Comment

Komentar di blog ini dibuat tanpa captcha untuk memudahkan Anda dalam berkomentar...

 
© Copyright 2010-2011 Setengah Lima All Rights Reserved.
Template Design by Amar Ma'rruf | Published by Google | Powered by Blogger.com.
Pengagum Ahmad Tohari, Pramoedya A.T., dan S. Djoko Damono