[ SETENGAH LIMA ]

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERANDA *
CIVIL * GIGS * ASTRONOMIA * CERITA * PHOTO BLOG
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perempuan di Balik Demonstran

Saturday, November 8, 2014


Pagi ini seharusnya saya mengerjakan daftar panjang pekerjaan finishing Hotel Santika Pekalongan. Sudah dikejar sama Pak Site Engineer, “Mana kerjaannya Mar, mau gue cocokin sama kerjaan gue”. Tapi tiba-tiba kepala saya mlintir dan sejenak kepikiran tentang kata-kata Soe Hok Gie. Saya tidak tau apa yang dia baca di usia semuda itu, yang jelas, buah pikirannya memang matang. Saya bilang matang kecuali untuk gerakan politiknya. Sedari dulu saya kurang suka ada mahasiswa ikut campur kedalam urusan ‘orang dewasa’, apalagi kalau si mahasiswa itu bukan dari jurusan politik. Sebenarnya ini doktrin dari bapak saya sih. Hehe.. “Kelarin kuliah, gausah ikut demo, tuntut sana sini ga guna, buat karya yang jelas, yang bisa membanggakan...” mungkin ortu saya sama dengan orang tua Anda = kolot. Tapi saya setuju. Lha wong mata kuliah bidangnya aja masih D kok mau ngatur para Doktor yang bercokol di Istana. Politik itu harus dalam kestabilan yang lama supaya jadi negara yang adidaya. Partai tak pernah bisa salah dan tak boleh salah. Kamu dan saya bisa salah!

Saya bukan menyuruh Anda menjadi pribadi yang pasif kepada negara. Kalau Anda sudah becus mengurus diri Anda sendiri, monggo silahkan protes kepada negara. Tapi kalau belum bisa... mikir sek... Kalau kata Pak Kenedi, "Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu tetapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu."

Halah... malah ngomongin politik. Niatnya bukan itu. Mari kita bicara tentang persepsi wanita dan cinta menurut Soe Hok Gie, yang sepertinya patut dijadikan daftar pustaka. 

Gemblung...!!! Senyumnya bikin saya gemblung sesaat...

“Dari wanita kita memerlukan kepuasan seksual dan intelektual. Soal ini tergantung dari tradisi pribadi seorang wanita”
–Soe Hok Gie-

Dalem ya... Lebih kurang saya juga sepaham. Tapi menilai wanita hanya dari kemampuannya menyajikan selangkangan adalah kemunduran proses evolusi menurut saya. Mau jadi monyet yang suduk sana suduk sini? 70 persen kecocokan pikiran, 30 persen masalah seksual lah... Kata forum sebelah ‘sex is fun’. Jadi penen icip icip... waaakkksss...

“Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu akan cemar bila kawin.”
–Soe Hok Gie-

Barusan kemarin baca dari salah satu forum internet. Katanya rasa cinta itu dipengaruhi oleh sebuah zat kimia di otak yang namanya “saya lupa”. Berangsur-angsur zat kimia ini membuat tubuh kebal terhadap fungsi zat ini. Setelah 4 tahun yang ada diantara pasangan adalah adalah nafsu dan ketergantungan fisik, seperti ekonomi dll. Jadi saya tidak setuju dengan Pak Gie, cinta memang sifat alaminya akan luntur. Yang namanya suci itu imajener, tidak nyata tapi ada. Kemudian, salah satu cara agar pasangan bisa bertahan lama adalah kawin atau seks... 

Dibalik tulisan
... kemarin tanggal 7, di sore hari yang dingin dengan suhu 18 derajad selsius padahal diluar 40 derajad selsius (pamer... biarpun di proyek tapi tetep adem)... saya nonton AADC reunian... kok bagus ya!!! Sayangnya durasinya cuma 10 menit. Seandainya dijadikan film panjang, saya yakin A Moment to Remember, A Walk to Remember, The Vow, The Fault in Our Stars, Taiyou no Uta ataupun Only You punya saingan baru.

Karena pemerannya adalah nicholas saputra yang notabene juga memerankan sosok Gie dalam film Catataan Harian Seorang Demonstran, jadi saya kepikiran buat nulis artikel kelas teri ini. Artikel tentang wanita di mata Gie... Btw... Dian Sastro memang yahud... Mbak Dian, I Love You...

Ah segitu ulasannya... si bos udah cemberut... saya caw...
Share this article on :

4 celathu:

Haitsam Shiddiq said...

wah lagi jatuh cinta mas? hheehe
sebenarnya boleh aja si mas mahasiswa ikut demonstrasi biar bisa mengawal pemerintahan, asalkan tetep berkontribusi nyata bikin aksi aksi sosial yakan? Dikampus saya sosok ketua bem bahkan lebih sering lahir dari fakultas mipa dan teknik, tapi sense of leadship dan gimana sikap ke pemerintah tetep oke.

Salam kenal mas, blogwalking dulu,
Wassalam

Fa.Brian Ganda Pratama said...

hidup tan Malaka :) !

Masamar Sukamoco said...

@Haitsam Siddiq >> yup, boleh... revolusi perancis dan beberapa revolusi besar lainnya juga hasil dari demonstrasi. Tapi kasian, selalu ada yang dikorbankan dalam demonstrasi yang melahirkan revolusi. "Anak makan bapak, jeruk minum jeruk"... Setiap orang kan punya jalan pikir masing-masing dalam 'menggiring' kebijakan... M. Gandi juga punya cara yang berbeda... Kalau saya sih, infiltrasi... hahaha...

Semisal ada kapal yang masuk kedalam zona terlarang. Kalo demonstran ala revolusi >>> kapalnya di balik, rusak, trus bikin kapal baru... Kalo ala Gandhi >>> kapalnya di blok, supaya kapalnya balik ke zona aman... Kalo saya >>> saya masuk ke dalam kapal, ketok pintu di depan ruang nahkoda sambil ngucapin salam "assalamualaikm", trus mengutarakan maksud dan tujuan, diskusi, keluar deh hasilnya... semua aman semua nyaman... lol

Iya je... lagi jatuh cinta... tapi sukar untuk dikatakan... apalagi setelah nonton AADC... behhh....10 menit paling baper dalam 21 tahun...

Masamar Sukamoco said...

Fa.Brian Ganda Pratama >>> bukan um... saya lebih ke kiri lagi mentok ke pojok barat... Karl Marx!! LOL...

Post a Comment

Komentar di blog ini dibuat tanpa captcha untuk memudahkan Anda dalam berkomentar...

 
© Copyright 2010-2011 Setengah Lima All Rights Reserved.
Template Design by Amar Ma'rruf | Published by Google | Powered by Blogger.com.
Pengagum Ahmad Tohari, Pramoedya A.T., dan S. Djoko Damono